Pencinta Yang Dimuliakan Allah. :)

TINTA PENULIS.

Dengan Nama Allah,

Aku hanyalah insan hina berlumur dosa yang seringkali tergelincir dari landasan iman. Aku perlukan teguran, nasihat & doa yang berpanjangan dari kalian.

Sesungguhnya aku menulis disini tujuan utamanya adalah untuk memperingatkan & menasihatkan diriku sendiri. Kala aku menulis, mungkin Allah tika itu meningkatkan keimananku. Maka, bila aku rasa lemah, aku akan kembali semula ke sini & membaca kembali catatan-catatanku; untuk aku baca, hadam & menghayati semula nasihat yang pernah aku tulis suatu masanya.

Ambillah mana yang baik & tinggalkanlah yang tidak bermanfaat. Semoga Allah Mengampuni semua dosa-dosa kita.. Amiin.

Friday, March 15, 2013

For the sake of Allah.






Sometimes,
It's just only us that feel that ourselves were not attractive.
Like all of the attraction had been disposed by the veil that covered all of the body.

We felt that we are out of fashioned.
Not wearing any fancy trendy shawl.
Not following any latest stylish trend.

We are just a simple us.
With a dull face without any make up.
Enhanced by the presence of acnes, freckles & scars.

We still what we were in past several years back then.
We still in that hijab that we cut & sewed by ourselves.
We still in that black jubah that we bought from one of our sahibah.

We thought that we are invisible.
No one would care about what are we wearing.
Like we are in our own world which only exist Allah & us.
& also people who are loving Allah like us.

We thought that no one would watching us.
Cause we thought that we are not attractive at all.
& of course what we wear, we said & we did, were not to attract anybody.
Since it just for the sake of Allah only.

We are comfortable on what we did.
We are enjoy in what ever we went through.
In our way, according to His way.

---

But suddenly.
Lately.
There are people keeps asking.
About yourself.
Your background, such as schools, hometown, siblings.
Talk about many things such as your future plans.
& slowly the conversation going abroad over what you usually talk.

Now they asking about your status.
Is there anyone special in your life.
Is there any space in your heart, in your life,
That available for 'someone' to be filled in.

Ah.
While still in adaptation phase.
This is so sudden.

But surely in Allah's view nothing comes fast, or comes late.
It just came at the right time, right place.

Or maybe all this time you were too busy on trying to be a good daughter to your Daddy.
Because on your behalf up until now, 
You still & always want to be your Daddy's Little Girl. :)

You ask yourself. Pondering alone.
"I'm just no one. Not as special as what they thought. Besides this big hijab & this simple appearance. I'm just a modest me. Don't they think that their expectations were too high?"

You think like that again.

Since it bothering you too much.
& no answer could be found by yourself.

The boring & unattractive you straightly asked them, then.
"Why?"

Tell me. Truthfully.
InsyaAllah I'll understand things simply.

Then she replied;
"A person like you only can be found by someone that really deeply lost into Allah's love."

She smile.

"Your effort to pleased Allah make you special. He choose you because of the Deen inside you. If you lose your Deen, then you won't be that special anymore."

Of course, this was another test from Him.

---

Once again..
You thought, how come those beautiful words suit you well?

& at the end,
It won't bring any changes to you.
You still what you were, you wore, you said & what you did.

Cause all this while,
It's just for the sake of Allah.

---

What we thought as small, in Allah's sight maybe is big.
What we thought as dull, in Allah's sight maybe is beauty.
What we thought as worthless, in Allah's sight maybe is priceless.

As what we said, we did, we wore.. only to pleased Him.
And to be with Him in His Jannah.

Allah will surely replied all of the du'a.
He will surely repaid all of the good deeds.

Lillahi ta'ala.

He came.
They asked.

Choose.
Choose for the sake of Him.

As what you choose is going to be as the part of your Deen.

----

It's not about beauty.
It's not about trendy.
It's not about wealthy.

It's not only about that.

Cause it's not only for Dunya.
But also for akhirah.

"Your beauty, your trendy style appearance, your wealthy cannot guaranteed you to enter His Jannah if they are lacking of Taqwa."

It's about Taqwa.
It's because of Allah.

---

Do everything for the sake of Allah.
Everything will be meaningless if it's done for the sake of human.

Dress to pleased Ar-Rahman.
Not to pleased any man.

Keep reminding yourself.

With Allah, you are priceless.
Without Allah, you are worthless.

So, dear...
Here's one simple question;

"Where's Allah in your life, in your heart?"

---

Wallahu a'lam.

~syauqahwardah1209~
150313
8.58
Jamadil Awal, 4
Serdang.

p/s: Now watching Wacana Perdana @ KelantanTV on USTREAM.


Wednesday, March 13, 2013

Aku dikhitbah.

- Ehsan -


Bismillahirrohmanirrohiim..

Assalamu'alaikum warahmatullah. 

Pasti pembaca sekalian (khususnya sodiqoh-sodiqoh yang mengenali diri ini) terkejut dengan berita ini. Mohon maaf kerana tidak memberitahu dan menjemput kalian. TETAPI, mohon minta diteruskan pembacaannya.. syukran. :)

Hari-hari berlalu yang dilewati seakan sudah bertahun lamanya, namun yang perlu diakui ialah ianya baru beberapa minggu lalu. Iya, hanya beberapa minggu lalu. Berita itu aku sambut dengan hati yang diusahakan untuk berlapang dada. Benar, aku berusaha berlapang dada. Terkadang, terasa nusrah Ilahi begitu hampir saat kita benar-benar berada di tepi tebing, tunggu saat untuk menjunam jatuh ke dalam gaung. Maha Suci Allah yang mengangkat aku, meletakkan aku kembali di jalan tarbiyyah dan terus memimpin untukku melangkah dengan tabah.

Aku hanya seorang Syauqah. Tiada kelebihan yang teristimewa, tidak juga punya apa-apa yang begitu menonjol. Jalan ku juga dua kaki, lihat ku juga menggunakan mata, sama seperti manusia lain yang menumpang di bumi Allah SWT ini. Aku tidak buta, tidak juga tuli mahupun bisu. Aku bisa melihat dengan sepasang mata pinjaman Allah SWT, aku bisa mendengar dengan sepasang telinga pinjaman Allah SWT juga aku bisa bercakap dengan lidahku yang lembut tidak bertulang. Sama seperti manusia lain.

Aku bukan seperti bondanya Syeikh Qadir al-Jailani, aku juga tidak sehebat srikandi Sayyidah Khadijah dalam berbakti, aku juga bukan sebaik Saiyiddah Fatimah yang setia menjadi pengiring ayahanda dalam setiap langkah perjuangan memartabatkan Islam. Aku hanya seorang Syauqah yang sedang menggembara di bumi Tuhan, jalanku kelak juga sama.... Negeri Barzakh, insyaAllah. Destinasi aku juga sama seperti kalian, Negeri Abadi. Tiada keraguan dalam perkara ini.

Sejak dari hari istimewa tersebut, ramai sahabiah yang memuji wajahku berseri dan mereka yakin benar aku sudah dikhitbah apabila melihat kedua tangan ku memakai cincin di jari manis. Aku hanya tersenyum, tidak mengiyakan dan tidak pula menidakkan. Diam ku bukan membuka pintu-pintu soalan yang maha banyak, tetapi diam ku kerana aku belum mampu memperkenalkan insan itu. Sehingga kini, aku tetap setia dalam penantian.

Ibu bertanyakan soalan yang sewajarnya aku jawab dengan penuh tatasusila.

"Hari menikah nanti nak pakai baju warna apa?"

Aku menjawab tenang..."Nur suka warna putih, bersih....."

"Alhamdulillah, ibu akan usahakan dalam tempoh terdekat."

"Ibu, 4 meter sudah cukup untuk sepasang jubah. Biarlah bersederhana. Jangan berlebihan."

Ibu angguk perlahan.

Beberapa hari ini, aku menyelak satu persatu.... helaian demi helaian naskhah yang begitu menyentuh nubari aku sebagai hamba Allah SWT. 

Malam Pertama....Sukar sekali aku ungkapkan perasaan yang bersarang, mahu saja aku menangis semahunya tetapi sudah aku ikrarkan, biarlah Allah SWT juga yang menetapkan tarikhnya kerana aku akan sabar menanti hari bahagia tersebut. Mudah-mudahan aku terus melangkah tanpa menoleh ke belakang lagi. Mudah-mudahan ya Allah.

Sejak hari pertunangan itu, aku semakin banyak mengulang al-Quran. Aku mahu sebelum tibanya hari yang aku nantikan itu, aku sudah khatam al-Quran, setidak-tidaknya nanti hatiku tenang dengan kalamullah yang sudah meresap ke dalam darah yang mengalir dalam tubuh. Mudah-mudahan aku tenang.... As-Syifa' aku adalah al-Quran, yang setia menemani dalam resah aku menanti. Benar, aku sedang memujuk gelora hati. Mahu pecah jantung menanti detik pernikahan tersebut, beginilah rasanya agaknya bagi orang-orang yang telah mendahului.

"Kak Syauqah, siapa tunang akak? Mesti hebat orangnya. Kacak tak?"

Aku tersenyum, mengulum sendiri setiap rasa yang singgah. Maaf, aku masih mahu merahsiakan tentang perkara itu. Cukup mereka membuat penilaian sendiri bahawa aku sudah bertunang, kebenarannya itu antara aku dan keluarga.

"InsyaAllah, 'dia' tiada rupa tetapi sangat mendekatkan akak dengan Allah SWT. Itu yang paling utama."

Berita itu juga buat beberapa orang menjauhkan diri dariku. Kata mereka, aku senyapkan sesuatu yang perlu diraikan.

Aku tersenyum lagi.

"Jangan lupa jemput ana di hari menikahnya nanti!"

Aku hanya tersenyum entah sekian kalinya. Apa yang mampu aku zahirkan ialah senyuman dan terus tersenyum. Mereka mengandai aku sedang berbahagia apabila sudah dikhitbahkan dengan 'dia' yang mendekatkan aku dengan Allah SWT. 

Pelbagai rasa yang berbaur di lubuk hatiku ini, hanya Allah Yang Lebih Mengetahui. Betapa takutnya, betapa gementarnya, betapa kerdilnya aku terasa untuk terus meneka-neka menghadapi hari yang dikatakan bahagia bagi semua orang yang mencintai kerana Allah itu.

Sahabiah juga merasa kehilangan ku apabila setiap masa terluang aku habiskan masa dengan as-Syifa' ku al-Quran, tidak lain kerana aku mahu kalamullah meresap dalam darahku, agar ketenangan akan menyelinap dalam setiap derap nafasku menanti hari itu.

"Bila enti menikah?"

Aku tiada jawapan khusus.

"InsyaAllah, tiba waktunya nanti enti akan tahu....." Aku masih menyimpan tarikh keramat itu, bukan aku sengaja tetapi memang benar aku sendiri tidak tahu bila lagi tarikhnya.

"Jemput ana tau!" Sumayyah tersenyum megah.

"Jika enti tak datang pun ana tak berkecil hati, doakan ana banyak-banyak!" Itu saja pesanku. 

Aku juga tidak tahu di mana mahu melangsungkan pernikahanku, aduh semuanya menjadi tanda tanya sendiri. Diam dan terus berdiam membuatkan ramai insan berkecil hati.

"InsyaAllah, kalian PASTI akan tahu bila sampai waktunya nanti......"

Rahsiaku adalah rahsia Allah SWT, kerana aku tidak mampu memberikan tarikhnya. Cuma, hanya termampu aku menyiapkan diri sebaiknya. Untung aku dilamar dan dikhitbah dahulu tanpa menikah secara mengejut seperti orang lain. Semuanya aku cuba sedaya upaya siapkan, baju menikahnya, dan aku katakan sekali lagi pada ibu......

"Usah berlebihan ya....."

Ibu angguk perlahan dan terus berlalu, hilang dari pandangan mata.

"Syauqah, jom makan!"

Aku tersenyum lagi........
Akhir-akhir ini aku begitu pemurah dengan senyuman.

"Tafaddhol, ana puasa."

Sahabiah juga semakin galak mengusik.

"Wah, Syauqah diet ya. Maklumlah hari bahagia dah dekat....... Tarikhnya tak tetap lagi ke?"

"Bukan diet, mahu mengosongkan perut. Asifani, tarikhnya belum ditetapkan lagi."

Sehingga kini, aku tidak tahu bila tarikhnya yang pasti. Asifani sahabiah,bersabarlah menanti hari tersebut. Aku juga menanti dengan penuh debaran, moga aku bersedia untuk hari pernikahan tersebut dan terus mengecap bahagia sepanjang alam berumahtangga kelak. Doakan aku, itu sahaja.

***

"Innalillahi wainna ilaihi rooji'un....."

"Tenangnya.......Subhanallah. Allahuakhbar."

"Ya Allah, tenangnya....."

"Moga Allah SWT memberkatinya....."

Allah...... itu suara sahabiah-sahabiah ku, teman-teman seperjuangan aku pada ibu.

Akhirnya,aku selamat dinikahkan setelah sabar dalam penantian. Sahabiah ramai yang datang di majlis walimah walaupun aku tidak menjemput sendiri.

Akhirnya, mereka mengetahui sosok 'dia' yang mendekatkan aku kepada Allah SWT.
Akhirnya, mereka kenali sosok 'dia' yang aku rahsiakan dari pengetahuan umum.
Akhirnya, mereka sama-sama mengambil 'ibrah' dari sosok 'dia' yang mengkhitbah aku.

Dalam sedar tidak sedar........

Hampir setiap malam menjelang hari pernikahanku....... Sentiasa ada suara sayu yang menangis sendu di hening malam, dalam sujud, dalam rafa'nya pada Rabbi, dalam sembahnya pada Ilahi. Sayup-sayup hatinya merintih. Air matanya mengalir deras, hanya Tuhan yang tahu.

"Ya Allah, telah Engkau tunangkan aku tidak lain dengan 'dia' yang mendekatkan dengan Engkau. Yang menyedarkan aku untuk selalu berpuasa, yang menyedarkan aku tentang dunia sementara, yang menyedarkan aku tentang alam akhirat. Engkau satukan kami dalam majlis yang Engkau redhai, aku hambaMu yang tak punya apa-apa selain Engkau sebagai sandaran harapan. Engkau Maha Mengetahui apa yang tidak aku ketahui......."

***

Akhirnya, Sumayyah bertanya kepada ibu beberapa minggu kemudian.......

"Syauqah bertunang dengan siapa mak cik?"

Ibu menjawab tenang.......
"Dengan kematian wahai anakku. Kanser tulang yang mulanya hanya pada tulang belakang sudah merebak dengan cepat pada tangan, kaki juga otaknya. Kata doktor, Syauqah hanya punya beberapa minggu sahaja sebelum kansernya membunuhnya."

"Allahuakhbar......" Terduduk Sumayyah mendengar, air matanya tak mampu ditahan.

"...Buku yang sering dibacanya itu, malam pertama......"

Ibu angguk, tersenyum lembut......
"Ini nak, bukunya."

Senaskah buku bertukar tangan, karangan Dr. Aidh Abdullah Qarni tertera tajuk 'Malam Pertama di Alam Kubur.'

"Ya Allah, patut la Syauqah selalu menangis......Sumayyah tak tahu mak cik."

"Dan semenjak dari hari 'dikhitbah' tersebut, selalu Syauqah mahu berpuasa. Katanya mahu mengosongkan perut, mudah untuk dimandikan......"

Sumayyah masih kaku. Tiada suara yang terlontar. Matanya basah menatap kalam dari diari Syauqah yang dinerikan oleh ibu.

"Satu cincin ini aku pakai sebagai tanda aku telah di risik oleh MAUT. Dan satu cincin ini aku pakai sebagai tanda aku sudah bertunang dengan MAUT. Dan aku akan sabar menanti tarikhnya dengan mendekatkan diriku kepada Allah SWT. Aku tahu ibu akan tenang menghadapinya, kerana ibuku bernama Ummu Sulaim, yang mana baginya anak adalah pinjaman dari ALLAH SWT yang perlu dipulangkan kembali bila Allah SWT mengkehendakinya. Dan ibu mengambil 'ibrah' bukan kerana namanya (Ummu Sulaim) malah akhlaknya sekali. Ummu Sulaim, seteguh dan setabah hati seorang ibu."

***


"Dan Allah tidak akan Menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan." [al-Munafiqun (63) : 11]

Cukuplah kematian itu mengingatkan kita........
Cukuplah kita sedar kita akan berpisah dengan segala nikmat dunia. 
Cukuplah kita sedar bahawa ada hari yang lebih kekal, oleh itu sentiasalah berwaspada.
Bimbang menikah tergesa-gesa, tahu-tahu sudah disanding dan diarak seluruh kampung walau hanya dengan sehelai kain putih yang tak berharga.


"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasan bagimu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dimasukkan ke dalam syurga, sungguh, dia memperolehi kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya." [ali-Imran (3) : 185]


***

Wallahu a'lam.

-------------------
Telah diedit & ditambah berdasarkan cerpen asal : Saya Sudah Bertunang.


------

p/s: Hati tersentap apabila terjumpa & terbaca quote ini; "Kita selalu teruja nak kahwin bila tengok orang sekeliling semua kahwin. Macam mana pula jika tengok ramai orang mati? Teruja tak kita untuk menghadapinya?"

p/s 2: Pray for Sabah. & for all our Muslim brothers & sisters all over the world. May Allah protect us all. Amiin.


Sunday, March 10, 2013

Apabila Taman Di Sebelah Lebih Indah.



[Original Draft; Early 02 2013 - Edited 070313]

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang...
Selawat & salam atas junjungan mulia Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam..


***
[Prolog]

Harumnya taman jiran sebelah..
Penuh mewangi dengan mawar nan merah..
Dilitupi dengan jalan berturap tar..
Nampak indah..
Nampak mewah..

Setiap hari tak pernah terlepas dia melihat keindahan taman jirannya itu.
Sambil mengeluh, 'mengapa taman aku tidak seindah itu..?'
Tanpa dia menyedari bahawa tabiatnya itu menyebabkan dia terlupa menghargai taman di tanahnya sendiri.

Hakikatnya, tamannya juga sedang mewangi dengan sakura yang berterbangan..
Berguguran ke tanah bak salju merah jambu..
Yang mempesonakan ribuan mata lain yang memandang..
Bahkan ada juga di antara mereka yang bertanya soalan yang sama...

'Mengapa taman aku tiada berbunga sakura...?'

Allah..... 
Manusia... 
Memang tak pernah merasa cukup.

Bahkan, jarang sekali bersyukur....


***
Seseorang yang saya hormati pernah menasihati; 

"Jangan mencemburui jalan indah yang dilalui oleh orang lain hingga terlupa hendak mensyukuri jalan yang telah Allah kurniakan, lorongkan untuk kita.... yang juga serba indah namun mungkin kita tidak perasan lantaran cemburunya kita kepada rezeki yang Allah berikan kepada orang lain..."


***


Sebagai insan yang imannya selalu naik & turun, seringkali kita ni kan (saya terutamanya)..... cemburu pada rezeki yang Allah kurniakan kepada para hambaNya yang lain. Kadangkala, tanpa sedar cemburu itu membuta tuli secara keterlaluan. Menjadikan kita lebih banyak merungut, complain itu ini, tidak berpuas hati & sangat....... kurang bersyukur.

Tak jauh pun.. diri saya sendiri pun pernah juga 'ter'cemburu apabila melihat kawan-kawan seumur yang sudah mampu menunaikan kewajipan kepada ibu bapa yang sudah tua dengan lebih baik dari segi materialistik, membantu dari segi kewangan dan sebagainya. Malah ada di antaranya yang sudah pun membawa mereka ke Tanah Suci untuk menunaikan umrah & haji sepenuhnya atas perbelanjaan si anak ini tadi. Subhanallah. Respect!

Agak 'ter'cabar juga apabila melihat mereka yang dahulu pernah sama-sama mengantuk di dalam kelas kini sudah pun berkarier hebat, memandu kereta idaman & sudah mampu memiliki serta menunaikan satu persatu rencana yang telah lama dirancangkan. Sedangkan saya masih berebut-rebut dengan undergrad students untuk ke kelas menaiki bas universiti. Allah.... Bahkan yang lebih junior pun sudah menunggu panggilan konvokesyen Master-nya.

Allah.... rasa macam saya ni kerdil sekali. Sehelai sepinggang lagi. Allah.. malu sekali. Dua kali. Tiga kali. Macam ditampar berkali-kali hingga malu mengangkat wajah.

Tepuk bahu sendiri & beri motivasi; 
"Tak apa, sabar. Kita teruskan merancang, membuat persiapan, berusaha menuju ke arah matlamat yang dituju. InsyaAllah.."

Lepas tu, senyum & banyak-banyak panjatkan kesyukuran kepada Allah.. Setidak-tidaknya Dia masih Memberikan peluang untuk kita memohon keampunan & memperbaiki diri. insyaAllah.. :)

Kena pujuk hati banyak-banyak. Kena istighfar banyak-banyak. Ingat pesanan kekasih yang paling Allah & kita cintai; Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda bahawasanya hendaklah kamu memandang orang yang di bawahmu (lebih susah daripadamu) supaya kamu tetap merasa kurniaan Allah padamu cukup besar & tetap merasa cukup, bersyukur.

Maka, bagaimana ditenteramkan nafsu ammarah *1 yang bergelodak itu tadi?

Sudah tentulah... kepada Allah diri ini kembali.

Tiada cara lain untuk menenangkan hati. Tiada cara lain untuk menghapuskan & menyahkan 'rasa' itu dari dalam hati melainkan dengan memandang kehidupan ini dari sudut pandang yang lebih luas. Pandangan Allah, pandangan akhirat.





Mari istighfar.

"Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya telah Dijamin Allah rezekinya. Dia Mengetahui tempat kediamannya & tempat penyimpanannya .*2 Semua (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." [Hud (11) : 6]

Setakat sampai ke helaan nafas ini, semuanya dalam genggaman Allah. Semuanya adalah ketentuan Allah. Mana kita mampu menelah apa yang terjadi secara tepat apa yang akan berlaku esok hari. Bahkan kita tidak mampu memutar kembali masa yang berlalu hatta walau satu saat! MasyaAllah.

"Dan jika Kami Berikan rahmat Kami kepada manusia, kemudian (rahmat itu) Kami Cabut kembali, pastilah dia tidak berterima kasih. Dan jika Kami Berikan kebahagiaan padanya setelah ditimpa bencana yang menimpanya, nescaya dia akan berkata; 'Telah hilang bencana itu daripadaku'. Sesungguhnya dia sangat merasa gembira & bangga, kecuali orang-orang yang sabar, & mengerjakan kebajikan, mereka memperolehi ampunan & pahala yang besar." [Hud (11) : 9-11]

Sekali lagi.... tanpa sedar, kita terlupa bahawa dunia ini hanyalah sementara. Akhirat itulah tempat yang abadi. Dunia hanyalah tempat kita diuji, bukannya menerima ganjaran. Ganjaran yang sebenar-benarnya adalah apabila segala amalan kita di dunia ini dihitung di Yaumul Mahsyar kelak. Jika Allah menerima & meredhai semua amalan kita, maka syurgalah ganjaran kita. Jika sebaliknya, ke nerakalah kita.

Rezeki, kelebihan, nikmat yang Allah pinjamkan kepada kita hari ini adalah ujian untuk kita. Ia adalah wasilah untuk mencari keredhaan Allah, sekali lagi diingatkan, ianya wasilah, & bukannya ganjaran. Allah Uji, samada kelebihan itu kita gunakan untuk jalan Allah atau sekadar kehendak diri sendiri?

Apakah kita gunakan segala nikmat itu untuk menunaikan hak Allah? Maka, jangan sesekali salah faham.

"Alhamdulillah, aku dapat 4 flat sem ni atas usaha aku study kuat-kuat."

"Alhamdulillah, Allah ganjarkan aku suami yang soleh setelah penat lelah aku menjadi perempuan yang baik selama ini.."

"Finally segala kerja keras aku di universiti terbalas after aku dapat kerja best-best, dapat beli kereta best, rumah best, gajet best."

Mari senyum akan kejahilan & kelalaian kita.
Allah.. nampaknya telah tertipu kita.

Wahai saudara-saudariku, itu bukan ganjaran...
Itu ujian.

Kelak di akhirat, Allah akan tanya,
"Aku bagi 4 flat dulu, apa yang kau buat dengan kejayaan itu? Adakah kau menyumbang untuk Islam? Ada tak kau didik anak bangsa, seagama dengan kau, agar mereka menjadi semakin mengingatiKu?"

Allah akan bertanya;
"Ha.. kau dulu kat dunia aku bagi suami yang soleh... ada tak kau manfaatkan suami yang soleh itu untuk menjadi hambaKu yang lebih baik? Telah kau usahakan sehabis baik atau tidak untuk membantunya untuk menjadi khalifah yang terbaik di bumiKu kala itu? atau dia semakin lupa kepadaKu setelah berkahwin dengan engkau?"

Juga tidak terlepas;
"Kerja yang kau agung-agungkan dulu tu... ada tak kau niatkan untuk kemaslahatan agamaKu? Kereta besar mewah yang Aku bagi pinjam dulu tu... ada kau jadikan wasilah untuk menyebarkan dakwah, ada kau wakafkan untuk jemaah bagi membawa anak-anak usrah ke tamrin & kursus tarbiyah, ada buat kau makin rajin pergi ke majlis-majlis ilmu untuk memperbaiki amalanmu? Tak lupa.... gajet terbaru & moden tu yang boleh wifi 24 jam tu, kau gunakan untuk memberi peringatan kepada manusia tak? Kau ada menasihati saudara-saudaramu yang lain tak? Ada kau pasangkan ayat-ayat Quran untuk ingat kepadaKu tak?"

Allah beri pinjam nikmat, rezeki & kelebihan, bukanlah untuk dibangga-banggakan, disalahgunakan. Bahkan lebih banyak pinjaman yang diberikan Allah kepada kita, makin panjanglah list soalan yang bakal ditanyakan kepada kita di akhirat kelak..

Waktu itu....
Mulut kita akan dikunci rapat. Hanya tangan, kaki, & segala pancaindera yang lainlah yang akan menjawab segala pertanyaan Allah itu.

Ya Allah...
Betapa dahsyatnya hari kepulangan kepadaMu.
Tak mampu kami lari waktu itu.
Tak mampu kami mengelak waktu itu.
Tak mampu kami berdalih waktu itu...

Segalanya akan dipersoalkan..
Segalanya akan diperhitungkan....

Jangan waktu itu baru kita hendak meraung-raung merayu pada Allah, berjanji untuk berasa cukup & bersyukur dengan apa jua yang Allah kurniakan kepada tatkala hidup kita di dunia. Waktu itulah baru beria-ia kita sedar hakikat dunia itu bukannya apa-apa berbanding akhirat yang selamanya..

Sayang sekali, waktu itu.... telah terlambat sudah penyesalan itu.

***


Saya masih ingat... dalam satu slot ceramah sewaktu mukhayyam (perkhemahan), ustaz ada menceritakan tentang seorang pakcik (kini telah kembali ke rahmatullah) yang kerjanya biasa sahaja. Kerja kampung. Hidupnya dalam rumah kecil yang agak uzur & menunggang motosikal yang juga uzur untuk mencari rezeki yang halal. Dia membuat simpanan berdikit-dikit untuk menunaikan haji atau sekurang-kurangnya umrah bersama isterinya yang tercinta. 

Alhamdulillah, Allah izinkan pak cik tersebut menjadi tetamuNya di Tanah Suci.

Kemudian, sekembalinya dia ke tanah air, kesihatannya & isteri tiba-tiba menjadi merudum. Waktu itulah dia mewasiatkan kepada ustaz bahawa lebihan simpanannya hendak diwakafkan kepada jemaah untuk digunakan ke jalan Allah. Subhanallah... Ditakdirkan Allah tidak lama kemudian, pasangan suami isteri itu pun meninggal dunia.

:'( ~speechless~

Saya sangat sebak memikirkan kisah ini. Berapa sangatlah duit yang telah saya sumbangkan untuk Islam. Tenaga pun entah berapa kerat sahaja sudah dimanfaatkan untuk Islam. Buat kerja kebaikan sedikit pun sudah bersungut & merungut penat, letih & sebagainya. Malu sungguh rasa dengan arwah pakcik itu yang yang sangat besar jiwanya untuk membantu agama Allah.

Lihat pula diri kita..

Kita ni.... nak bagi derma dekat orang yang minta sumbangan waktu kita makan di restoran, RnR, waktu jalan-jalan hendak ke Sogo, Mall mana-mana pun kita pandang semacam. Siap ada syak wasangka samada betul ke  mereka ni berdaftar, betul ke sah, betul ke sahih apa yang dikatakan, betul ke.. Banyak sangat yang bermain dalam kepala.

Teringat kisah-kisah wali Allah yang diturunkan untuk menguji kita melalui cara-cara yang sebegini. Untuk uji iman kita. Untuk uji akhlak kita.

Ada kita teliti bagaimana akhlak kita kepada mereka? Dengan akhlak kita yang buruk kepada makhlukNya, kemudian, kita mengharapkan Allah beri kita nikmat sebaik sahaja kita minta kepada Dia? 

Ini sangat ironi.

***

Siapa pernah baca buku tentang biografi Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam terbitan Must Read? 

Ya, yang hardcover warna hitam tu... 

siapa belum beli... jom beli. Memang wajib beli.

Dalam buku tu ada foto baju Rasulullah, baju sayidatina Fatimah, baju sayidina Husin... Boleh lihat sendiri bagaimana compang-camping, bertampal-tampal & sangat lusuhnya pakaian mereka.

"Macam sarung guni..." ujar salah seorang kawan saya masa saya membuka halaman itu.

Berkaca mata saya.

Mereka insan kesayangan Allah. Dijamin syurga Allah.
Tapi mereka sangat zuhud kepada dunia.. sebab cinta, rindu mereka kepada Allah & akhirat melebihi segala-galanya..
Ibadah mereka juga... masyaAllah....

Saya segera merasa terpukul.
Allah...
Wajah separas tapak kaki, malu sungguh pada Allah.

Kita... kita di mana kita sebagai penyokong & pendokong agama ini?


Berapa banyak sudah harta, masa, tenaga & doa yang telah kita wakafkan untuk agamaNya ini?

Itu pun kita masih mahu merungut macam-macam kepada Allah. Nak itu, nak ini. Minta itu, minta ini daripada Allah. Tapi hak Allah pun kita tak pernah nak tunaikan... hubungan dengan Allah pun kita tak jaga... macam mana Allah nak jaga kita & tunaikan doa kita?

Sudahlah banyak meminta, permintaan itu pula diniatkan kerana mahu bersaing dengan hambaNya yang lain (bersaing hanya sekadar tujuan duniawi). Kelebihan, nikmat & rezeki itu dipohon bukannya dengan niat mahu bantu agama Allah, mahu tunaikan hak Allah. Sebaliknya hanya terbatas pada keinginan & keperluan diri. 


***

Kejap....
Mesti ada yang argue kan.. 

"Hey, come on.... hidup hanya sekali. Face the reality-lah! Everything needs money.  Takkanlah tak nak berusaha & membina cita-cita langsung? Zuhud sangat sampai meminta-minta jadi peminta sedekah. Yelah... kata dunia ni sementara je kan... duduk je kat masjid 24 jam beribadah..."

Eh... taklah sampai macam itu... itu melanggar sunnatullah.

Begini....


Hiduplah. Binalah hidup di dunia ini. Tapi masih mengikut acuanNya.

Bercita-citalah. Bermimpilah. Bergeraklah. Berusahalah. Tapi jangan sampai ingat kita hidup selamanya..

Ya.. kita hidup di dunia ini.. Tapi.. jangan lupa, kita juga hidup di akhirat sana.
Malah, lebih panjang waktunya berbanding di dunia ini.

Tak salah kita mengimpikan mahu beli rumah besar, kereta mewah, holiday oversea, shopping & sebagainya di dunia ini. Tapi jangan sampai kita lupa untuk memikirkan rumah yang bagaimana bakal kita duduki di akhirat kelak? di dalam syurga ke.. dalam neraka ke... (nauzubillah). Juga, kenderaan apa yang kita bakal naik meniti titian siratNya? 

Itu dia point-nya di sini.

Kita lupa, kita ni hidup untuk dunia sahaja ke?

Akhirat kita macam mana?




***
[Penutup]

Sekali lagi, saya ingatkan diri saya & anda yang saya kasihi semua, mari kita banyak-banyakkan bersyukur. Yakinlah, apa yang Allah Kurniakan kepada kita itu adalah yang terbaik. Yakin & percaya pada Allah. Manfaatkan apa juga rezeki & kelebihan yang Allah pinjamkan kepada kita untuk membantu agama Allah.


Akhirul kalam;
Mari kita tanya diri sendiri dengan satu persoalan yang sungguh sederhana;


"Adakah benar kita memandang & mengambil dunia ini sekadarnya sahaja? Mengambil segala kurniaan yang Allah berikan, baik segala kelebihan mahupun kekurangan, semuanya digunakan hanya sebagai wasilah untuk mencari keredhaan Tuhan?"


Tepuk dada, mari kita tanya iman.

Masa kian berjalan. 
Umur kian bertambah.
Bermakna.... kematian itu semakin dekat..

Kita dengan Allah... semoga hubungan hamba-Robb ini semakin erat. 
Mudah-mudahan.



Wallahu a'lam..

--------------
Notakaki:
*1 : nafsu ini dimiliki oleh insan-insan biasa yang imannya selalu naik & turun.
*2 : Menurut sebahagian mufasir, yang dimaksud dengan 'tempat kediaman' di sini ialah dunia & 'tempat penyimpanan' ialah akhirat. Dan sebahagian mufasir yang lain berpendapat maksud 'tempat kediaman' ialah tulang sulbi  & 'tempat penyimpanan' ialah rahim.

Tuesday, March 5, 2013

Menjadi Insan Yang 'High Class'.- Part 1



Bismillahirrohmanirrohim..
Alhamdulillah.. Penghujung Februari lepas Allah izinkan saya pergi ke majlis ilmu yang dihadiri oleh ustaz & ustazah yang saya kagumi ilmunya. Tambahan pula, saya selalu mengikuti tazkirah Ustazah Laila dalam slot Tanyalah Ustazah & IM Fakhrul dalam Skuad Imam Muda Astro Oasis.

InsyaAllah saya kongsikan ilmu yang sempat saya catat sewaktu program tersebut di dalam entri ini. Moga memberi manfaat kepada semua, mudah-mudahan. :)


***

Di dalam sebuah hadis ada menyebut bahawa ar-rijal (lelaki) adalah pemimpin bagi an-Nisa’ (wanita). Hadis ini bertepatan sekali dengan firman Allah di dalam al-Quran yang mengatakan bahawa lelaki & wanita saling bersandaran fungsinya.

Kewujudan wanita adalah antara tanda kekuasaan & keesaan Allah SWT. Antara keistimewaan & kekuatan seorang wanita adalah bila mana Allah mengizinkan wanita menjadi ibu, hamil selama 9 bulan, melahirkan umat manusia serta mendidiknya pula. Disebabkan pengorbanan wanita yang besar ini, Allah telah mengangkat darjatnya hinggakan syurga seorang anak lelaki (begitu juga dengan anak perempuan yang masih belum berkahwin) diletakkan di bawah telapak kaki ibu. Subhanallah.

***

Soalan:
Apakah peranan wanita di dalam Islam?
 

Jawapan:
(
Imam Muda (IM) Fakhrul)


Allah SWT telah meletakkan minat & keinginan lelaki (ar-Rijal) yang paling utama sekali adalah terhadap wanita (an-Nisa). Pelbagai keistimewaan yang Allah Berikan kepada wanita termasuklah kecantikan wajahnya, senyumannya, bahkan air matanya juga bisa membuatkan lelaki menjadi lemah.

Ada pepatah menyebut bahawa air mata adalah antara senjata utama seorang wanita. Mungkin kisah sirah ini boleh dikaitkan dengan kata-kata itu. Dikisahkan bahawa Sayidina Umar al-Khattab yang sifatnya keras & bengis sewaktu sebelum memeluk Islam, kalah dengan air mata adindanya Fatimah al-Khattab yang menangis apabila ditampar abangnya sewaktu membaca al-Quran; Surah Toha. Dapat dilihat di sini, sebengis & sekeras mana pun seorang lelaki tetap akan tersentuh apabila terlihat air mata seorang wanita.

Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam telah diutuskan Allah, datangnya Nabi ke alam jahiliyyah telah mengangkat martabat golongan wanita yang sangat dihina kala itu. Sebelum kedatangan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, memang sangat teruk & hina sekali nasib perempuan.

Masyarakat jahiliyyah menganggap wanita setaraf dengan batu, kayu yang tidak bernilai apa-apa. Mereka malu apabila mendapat anak perempuan, rasa hina, sanggup menanam bayi perempuannya hidup-hidup daripada menanggung malu. Manakala, masyarakat Yahudi pula menganggap wanita merupakan punca segala punca kerosakan di muka bumi.

Maka, wanita… ambillah pesanan & wasiat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam untuk menjadi perempuan yang baik-baik.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam melalui hadis baginda telah menggariskan 4 syarat utama bagi seorang wanita untuk memasuki mana-mana syurga Allah.

4 perkara tersebut adalah;

1) Menyempurnakan solat 5 waktu.
2) Berpuasa.
3) Menjaga maruah & kehormatan diri dengan sebaiknya.
4) Taat kepada suami.

Namun, haruslah diingatkan kepada para wanita bahawa walaupun kesemua wasiat Nabi tersebut nampak mudah & remeh, ia bukanlah sebenarnya mudah seperti yang disangkakan.

Solat bukanlah semata-mata bersolat. Bahkan disebut sebagai mendirikan, menyempurnakan solat yakni solat yang boleh mencegah kita daripada melakukan perbuatan keji & mungkar. Solat yang berkualiti yang dapat menjadikan seorang perempuan itu menjadi perempuan yang mahal harga diri, menutup aurat dengan sempurna serta dapat menjaga nafsunya dengan baik.

Begitu juga dengan perihal ibadah puasa. Puasa yang dilakukan bukanlah semata-mata puasa yang hanya sekadar mendapat lapar & dahaga tetapi ianya adalah puasa yang mampu menjadikan kita wanita yang bertaqwa. Puasa yang boleh membina taqwa, mendidik sifat sabar, sifat pemaaf, kasih sayang & sebagainya. Inilah puasa yang dituntut oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadis itu.

Syarat yang ke-3 untuk seorang wanita memasuki syurga Allah melalui mana-mana pintu yang disukainya ialah menjaga maruah & kehormatan dirinya daripada terjebak ke lembah yang keji lagi hina. Menjaga kehormatan ini bermakna menjaga auratnya, menjaga tuturkatanya, menjaga batas pergaulan dengan bukan mahramnya. Inilah yang membezakan antara wanita high-class & wanita yang low-class, bukan pada piawaian manusia, tetapi pada pandangan Allah & Rasulullah.

Manakala, bagi syarat yang terakhir, bagi wanita yang telah bersuami hendaklah dia taat kepada suaminya.

Ada 1 kisah tentang wanita pertama yang memasuki syurga Allah, lebih awal daripada puteri Nabi. Hal ini dikhabarkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam kepada puteri kesayangannya, Fatimah. Mendengar khabar tersebut Fatimah menjadi terkejut kerana ada wanita lain yang mendahuluinya untuk memasuki syurga Allah. Lalu dia bertanya kepada ayahandanya apakah keistimewaan wanita tersebut.

Rasulullah menjawab, dia sangat taat kepada suaminya lalu menyuruh Fatimah menziarahi wanita itu yang rumahnya dekat dengan Jabal Uhud.

Fatimah kemudiannya mengambil keputusan untuk menziarahi wanita tersebut. Sampai sahaja di rumah wanita itu, dia memberi salam & memperkenalkan diri sebaik sahaja pintu terbuka. Namun, dia bukan sahaja tidak dijemput masuk, bahkan disuruh pulang dahulu kerana katanya ingin meminta izin suaminya dahulu sebelum menjemput Fatimah masuk ke dalam.

Esoknya, Fatimah datang kembali bersama dengan Hasan. Sekali lagi, Fatimah tidak dibenarkan masuk ke rumah kerana wanita itu hanya meminta izin suaminya untuk mengizinkan Fatimah masuk ke dalam rumah, bukan sekali dengan Hasan. Maka, Fatimah disuruh pulang dahulu dan datang keesokan harinya setelah dia meminta izin suaminya dahulu. Sekali lagi Fatimah hampa lalu pulang.

Keesokan harinya Fatimah datang sekali lagi membawa Hasan & Husin. Melihat Fatimah datang, wanita itu kelihatan sungguh gembira. Dia sudah membuka pintu rumah untuk menjemput masuk puteri Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam itu. Namun, dia tidak berbuat demikian apabila terlihat Husin.

“Maafkan aku wahai Fatimah… namun, aku hanya meminta keizinan untuk kamu & Hasan. Aku tidak dapat membenarkan Husin masuk sekali… apakata kamu datang esok, aku perlu meminta keizinan dari suamiku dahulu.” Ujar wanita itu.

“Husin adalah anakku, dia hanyalah kanak-kanak kecil. Tidak bolehkah kau membenarkannya masuk sekali bersamaku?” Fatimah berasa tidak berpuas hati.

“Maafkan aku… aku hanya boleh membenarkannya masuk setelah meminta keizinan suamiku terlebih dahulu… datanglah esok.” Balas wanita itu.

Fatimah hampa. Dia pulang dengan rasa tidak puas hati.

Keesokannya dia datang sekali lagi dengan Hasan & Husin. Kali ini, dia dibenarkan masuk & dilayan dengan baik sekali. Bagaimanapun, tidak lama kemudian, dia lihat wanita itu kelihatan keresahan sambil terintai-intai di celahan tabir tingkap melihat ke luar rumah. Di tangan kanannya memegang air, tangan kirinya memegang rotan sambil mengangkat sedikit kain sebelah kirinya hingga menampakkan betisnya.

Fatimah rasa terganggu dengan sikap wanita itu. Sebetulnya dia mahu mengorek apakah rahsia wanita itu hinggakan dikhabarkan menjadi wanita yang pertama memasuki syurga Allah. Melihat gelagat wanita tersebut, akhirnya Fatimah menyuarakan rasa hairannya.

Wanita itu akhirnya meminta maaf sebelum menjelaskan bahawa dia ternanti-nanti kepulangan suaminya. Kebiasaannya waktu tersebut suaminya akan pulang ke rumah. Maka, dia menyiapkan air supaya jika suaminya haus, dia akan terus memberikan air tersebut tanpa perlu suaminya menunggu lama. Rotan di tangan kirinya sebagai persediaan supaya jika suaminya rasa tidak puas hati kepadanya, suaminya boleh memukulnya dengan rotan itu. Manakala, kain yang disingkatkan itu bertujuan jika suaminya berkeinginan kepadanya, maka, dia akan melayani kehendak suaminya dengan penuh kerelaan.

Mendengar penjelasan tersebut menyebabkan Fatimah terpukau. Akhirnya dia mengerti akan keistimewaan wanita itu yang menyebabkannya memasuki syurga Allah, iaitu kerana sangat taat kepada suaminya.

Subhanallah. Allahuakbar.
Sungguh benarlah apabila dikatakan bahawa sebaik-baik kecantikan dunia adalah wanita yang solehah..

Dan orang-orang yang beriman, lelaki & perempuan, sebahagian mereka menjadi penolong bagi mereka yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, & mencegah dari perkara yang mungkar, melaksanakan solat, menunaikan zakat, & taat kepada Allah & Rasulnya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” [at-Taubah (9) : 71]

Seperti yang dinyatakan Allah di dalam al-Quran, peranan lelaki & perempuan sama-sama besar. Mereka setara dari segi fungsi menjayakan dakwah. Mereka perlu menjaga tuturkata, cara pemakaian, cara berjalan, cara makan, semuanya perlulah mengikut seperti apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam; semuanya adalah cerminan bagi agama Islam.

Allah SWT berfirman; “Lelaki (suami) itu adalah pelindung perempuan (isteri), kerana Allah telah melebihkan sebahagian mereka (lelaki) atas sebahagiaan yang lain (perempuan), & kerana mereka (lelaki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka, perempuan-perempuan yang soleh adalah mereka yang yang taat (kepada Allah) & menjaga kehormatan diri ketika suaminya tidak ada, kerana Allah telah menjaga mereka (Allah telah mewajibkan lelaki untuk menggauli isterinya dengan baik)…” [surah an-Nisa’ (4) : 34]

Lelaki perlu menyedari hakikat bahawa mereka perlu membimbing, mentadbir, mendidik perempuan-perempuan di bawah jagaannya termasuklah ibunya, isterinya, anak-anaknya serta saudara-saudara perempuannya. Begitu juga para wanita, sekalipun bekerjaya besar sekalipun, tetap perlu melaksanakan tanggungjawabnya selaku seorang isteri, ibu & juga tetap menjadi anak yang solehah kepada ibu bapanya.

***
Soalan:
Siapakah layaknya yang menjadi role-model muslimat? Masih relevankah sirah & sunnah Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam dapat menjadi panduan & teladan bagi muslimin & pasangan suami isteri?

Jawapan:
(IM Fakhrul)
Kita dituntut untuk mengajarkan kepada anak-anak kita tentang 3 perkara;
1)    Ajar untuk sayang & cinta kepada Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam.
2)    Mencintai ahli keluarga Nabi; isteri, anak-anak, cucu-cucu baginda.
3)    Menyayangi Al-Quran.

Sirah menyaksikan betapa Aisyah tidak pandai memasak, namun dia pergi mempelajari cara memasak daripada madu-madunya yang lain yang lebih handal memasak untuk memikat & menggembirakan hati Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam.

Sirah juga melakarkan betapa Fatimah az-Zahra pernah mengadu keletihan, kepenatan & tidak tahan apabila terpaksa melakukan semua kerja rumah daripada memasak, membasuh, mengemas, mendidik anak-anak, menguruskan anak-anak serta melayan suami. Dia meminta pembantu daripada ayahandanya kerana dia tahu suaminya tidak mampu menyediakan untuknya.

Lalu, Rasulullah sallallahu ‘alaihi memujuknya dengan menyuruhnya berzikir Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar sebanyak 33 kali tiap kali selepas solat. Zikir tersebut juga dinamakan sebagai Tasbih Fatimah yang dikatakan lebih baik daripada seorang pembantu kepadanya. Subhanallah.

Di sini, ada satu kisah bagaimana romantiknya Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam terhadap para isterinya, untuk kita jadikan renungan & panduan bersama..

Pada satu hari, pulang saja Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam daripada permusafiran, Sayidatina Aisyah menyambutnya dengan mesra sambil mengatakan bahawa dia telah menyiapkan bubur tepung kesukaan baginda. Baginda meraikan usaha isterinya itu dengan wajah yang manis & ceria sambil terus mengambil mangkuk bubur yang dihulurkan Aisyah kepada baginda.

Setelah suapan pertama, oleh kerana bubur tersebut terlalu enak, menyebabkan Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam terimbau kenangannya bersama isteri pertamanya yang sangat dicintai baginda, Sayidatina Khadijah binti Khuwailid yang semasa hidupnya juga gemar melayannya dengan hebat sedemikian rupa.

Lalu, tanpa disedari, akibat rindunya baginda terhadap Khadijah, baginda telah terlepas kata; "Sedapnya... pandai 'Khadijah' masak..."

Mendengar nama Khadijah keluar daripada mulut baginda (Sememangnya Aisyah sungguh mencemburui Khadijah seperti yang diriwayatkan dalam banyak hadis), maka terlepaslah mangkuk di tangan Aisyah yang berisi lebihan bubur tepung tadi.

Aisyah tergamam.

Suasana sunyi buat seketika.

Teka apa yang baginda lakukan?

Adakah baginda menempelak Aisyah kerana membazir makanan ataupun memarahi Aisyah kerana memecahkan mangkuk?

Tidak. Tentu sekali tidak.

Sebaliknya, baginda secara perlahan-lahan merapati isterinya Aisyah sambil memeluknya dengan penuh kasih sayang, lalu berbisik perlahan; "Sayang, abang minta maaf..."

Allahu akbar. :')

Sweet kan Nabi...?

Begitu juga jika Aisyah merajuk, Nabi Muhammad akan datang kepadanya lalu mencubit lembut pipinya sambil berdoa; “Ya Allah yang memegang hati Muhammad, ampunilah dosa-dosaku & hilangkanlah kekerasan dari hatiku.” Baginda memohon keampunan Allah atas kesilapannya menyakiti hati Aisyah. Allahuakbar.

Lihat… bagaimana halus, bijak, romantisnya Rasulullah menangani emosi Aisyah. Contohi bagaimana Rasulullah mengendalikan rumah tangga baginda. Inilah sepatutnya yang dijadikan contoh oleh para suami sekalian.

Sesungguhnya, pada batang tubuh Nabi, sirahnya, akhlaknya, dakwahnya; semuanya adalah contoh terbaik. Sebagai umat Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wasallam, siapakah yang lebih patut kita ikuti, contohi, teladani melainkan Rasulullah-lah yang paling utama & selayaknya kita jadikan role-model?

Pasakkanlah di dalam hati bahawa sirah & sunnah Rasulullah adalah relevan untuk sepanjang zaman.


***

Subhanallah.
Alhamdulillah.
Allahuakbar.

InsyaAllah, setakat ini dulu.

Wallahu'alam..

----
p/s:
Bahagian Ustazah Laila Aniza akan ditulis berasingan dalam entri seterusnya, insyaAllah.
Begitu juga dnegan Sesi Q & A insyaAllah. :)
Semoga bermanfaat..